Minggu, 08 Desember 2013

Mantenan Hutabarat

saya lupa kapan foto ini diambil, yang pasti ini bener-bener foto pertama saya memakai kebaya.
bener-bener Indonesia abal-abal :/
Gambar ini diambil ketika saya menjadi pagar ayu di pernikahan Hutabarat (marga suku Batak) di Aula Skodam Brawijaya Malang. kalau tidak salah yang menikah seorang lelaki jawa yang membeli marga dengan seorang perempuan Batak yang ber-marga (boru)  Hutabarat. yah seperti itu ^_^ (*karena saya sebenare ndak paham tentang adat, jadi dipercepat)

sepiring apa-adanya.

secentong nasi merah, telor ceplok dan sebatang sosis menjadi pilihan makan pagi yang terlalu siang. semoga hari kita menyenangkan :)

Pagi yang Terlalu Pagi

SIAAANNNNGGG!
akhirnya saya bisa merasakan senin lagi.
hari yang paling menjadi problematika di pagi hari. berurusan dengan kantuk dan beberapa tragedi kecil.
pagi tadi saya telat bangun (lagi) dan bela-belain mandi ekspres 3 menit. yah, untuk mempertahankan ketidak hadiran yang hampir 3 kali, means = terancam gagal ikut UAS!
yak.

tapi Tuhan berkata lain, kali ini saya ga boleh cuma ngandelin Tuhan. harus bener-bener berusaha bangun lebih pagi. berdoa dalam hati aja ga cukup merubah keadaankan? kadang kala saya berpikir ini salah. berdoa ketika timing-nya mepet dan mendesak Tuhan dengan cara minta penyertaan-Nya supaya ga telat. mencoba'in Tuhan dong yah? BAD  RUTH!

tadi pagi saya bangun jam 6.58.
kuliah masuk pukul 07.00 (walau kesepakatan tak tertulis teng-nya jam 7.20)
buru-buru mandi dan ganti baju. baru sadar kalau semua sepatu basah. dan eng-ing-eng. terpikir untuk memakai sepatu sakral saya tiap minggu. WEDGES. tawaran itu sedikit saya tepis, tapi mau bijimane lagi yakan. terpaksalah saya memakai wedges ini.
dan ini penampakannya.



awalnya saya kira , benda ini akan  "benar-benar baik-baik saja" dan "tak ber-ulah". karena plaform-nya yang ratak gitu yah. tapi memang yang namanya heels. ketika dipake buat jalan DAN  KAKI SAYA MEMANG KAKI YANG PALING LASAK SE-DUNIA, akhirnya terlukalah kaki bagian belakang. sampai berdarah dan bengkak.






yup. ga berhenti disitu saja, sampainya dikelas dengan muka sok ga kejadian apa-apa saya duduk paling dekat dengan pintu keluar ( yg saat itu kursinya rusak -_-)
berkat muka saya yg sudah terlatih teater dan berlagak ga kenapa-kenapa. akhirnya tertutupilah kedok telat saya dan berpindah secara bergerilya ke kursi pas dibelakangnya. yeaaaaaaah!
HIDUP MAHASISWAA! HIDUP!

Sabtu, 07 Desember 2013

Jangan tanduskan bahkan tenggelamkan Batam.

selamat pagi blogspot, ah sudah hampir setahun saya tidak update di blog ini yah :/
baaiklah, saya akan berbagi cerita kali ini.
mengenai rumah saya sekarang.

sebagai penduduk ber-KTP Batam (Provinsi Kepulauan Riau) saya memiliki tanggungan untuk membantu daerah saya.  salah satu bentuk nyatanya adalah dengan tulisan ini. Apa yang pertama kalian dengar ketika mendengar Pulau Batam? Pulau? Daerah tertinggal? Hinterland? Belum masuk pasokan listrik? Masih rawa-rawa? Atau oh, pulau metropolitan itu? Miniatur Indonesia?  Pulau industri?  Tempat singgah ke Singapore?

yah, saya akan memperkenalkan Batam yang didalamnya ada potongan mozaik kehidupan saya. Kebetulan di tugas akhir matakuliah metodelogi penelitian, saya membawa batam sebagai judulnya. Baiklah, akan saya jelaskan sedikit mengenai tempat tinggal saya. Batam, pulau yang hanya seluas 1.040 km² ini adalah kota yang memiliki populasi tepadat setelah Medan, dan Palembang di Sumatera. Letaknya yang seksi berada di jalur pelayaran internasional dan memiliki jarak yang cukup dekat dengan singapura dan Malaysia. Mengapa saya mengatakan batam adalah miniatur Indonesia?  Hal ini cukup unik, karena hampir seluruh suku di Indonesia ada di Pulau Batam. Informasi lowongan pekerjaan yang meluas ke Indonesia tentang Batam menjadi daya tarik tersendiri untuk mengadu nasib di Batam dan beranak cucu.

Unik memang, gampangnnya seperti di lingkungan rumah saya. Di depan rumah saya ada seorang bugis yang menikah dengan seorang manado, di samping rumah seorang jawa, di belakang ada seorang melayu, lalu agak turun sedikit ada orang flores dari nusa tenggara, dua blok dari rumah saya juga ada sekeluarga toraja. Dan saya sendiri keluarga dari suku Batak . Singkat kata, it’s a miniature of Indonesia Right?  Menurut saya penduduk Batam merupakan akulturasi dari semua suku di Indonesia, melahirkan kebiasaan-kebiasan dari adat masing-masing serta dipengaruhi oleh daerah disekitarnya. Jadilah Batam. Kota kecil yang mulai menegakkan kepalanya.

kalau ditinjau dari segi ekonominya, Pertumbuhan ekonomi batam  yang pesat dan menjanjikan juga merupakan daya tarik si pulau kecil ini. Taukah kalian bahwa Kota Batam memiliki  pendapatan perkapita tertinggi di Indonesia ke-34 . Pertumbuhan ekonominya rata-rata sekitar 8,2 persen pertahun. Ketika dipikir lagi, ternyata pertumbuhan ini Jauh di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi nasional sekitar 6 persen pertahun. TARAAA! Dan good News-nya lagi Provinsi Kepri secara nasional masuk 10 besar nasional dalam keberhasilan pembangunan.  Wow,  masih balita tapi uda bisa merangkak dan menyamai kota-kota dengan wajah dewasa.

Berbicara tentang bidang sumberdaya, Batam memiliki banyak  Perusahaan kecil sampai raksasa di kawasan Industri Muka Kuning, Batu Ampar, dan Tanjung Uncang. Belum lagi dikawasan sektor perumahan, ressort, restaurant, dermaga, hotel dan lain-lain. Karena sumberdaya batam  lumayan bisa menghasilkan maka saya berasumsi bahwa , Batam termasuk pulau yang mandiri, tidak lain juga dikarenakan tentang kepemilikan  Otonomi daerah sendiri yaitu otorita Batam dalam mengolah sumber daya yang ada.

lalu bagaimana dengan pendidikan serta kesehatan di Pulau Batam?
yup, ini pertanyaan yang masih saya pecahkan, membandingkan dengan beberapa kota yang sudah maju dibidang pendidikan serta kesehatannya. Menurut saya, Batam cukup ketinggalan jauh ketinggalan dibidang pendidikannya dibandingkan kota-kota besar seperti bandung, Jakarta,Surabaya,Jogjakarta,Medan. Karena konsentrasi pulau ini yang lebih memprioritaskan industry, maka harus ada kerugian yang dialami dibidang lain. Konsep pareto Optimal. Di satu sisi Batam dikonsentrasikan di bidang sektor produksi dan jasa sedangkan disektor lain kami kecolongan, dengan konsentrasi kerja yang tinggi dan lapangan perkerjaan didepan mata, kemauan dan atmosfer untuk belajar cukup rendah. Mengapa saya katakan cukup rendah? Baik  saya jelaskan. kita telah mengetahui bahwa Batam merupakan daerah perburuan untuk kerja, dan setiap anak yang bersekolah di batam pasti memiliki 1 peluang untuk bekerja di daerahnya. Ketika seluruh Indonesia berlomba-lomba untuk mencari pekerjaan di batam, maka anak-anak yang bersekolah di Batam juga demikian. Jadi antusias untuk belajar rendah, karena begitu banyaknya kawasan industry yang pasti membutuhkan tenaga kerja. Semikianlah sebab musabab mengapa pendidikan di Batam cukup rendah dibandingkan kota-kota lain. Begitu lulus sekolah, langsung menjadi karyawan atau  buruh, dan demikianlah seterusnya.

suatu keberuntungan karena orang tua saya sudah merantau ke Pulau Batam sejak tahun 90-an, berarti saya memiliki 1 peluang untuk bekerja disana karena ketersediaan informasi serta relasi dibeberapa perusahaan. Seharusnya begitukan yah? Iya. oh iya, saya juga ingin menceritakan fasilitas yang dimiliki Batam sebagai kota cilik metropolitan. Batam dengan hutan yang masih rimbun memiliki bandara internasional yang bernama hang nadim International Airport. Saya juga berani bilang bandara ini seksi. Kenapa? Itu dikarenakan bandara batam merupakan titik masuk-keluarnya dari asia ke Indonesia bahkan Autralia. Sering terjadi penyelundupan barang-barang haram, tidak dikenai pajak, bahkan manusia di bandara ini. Bandara ini menjadi saksi bisu asat persinggahan buronan serta pidana mati dari luar negeri . Arsitekturnya sangat simple dan dibuat bergaya mall, ketika masuk di loungenya kalian pasti akan kaget, ini bandara atau mall ? ya, ini strategi kota Batam. Barata yang sudah tersedia serta tempat yang sangat bersih merupakan daya tarik tersendiri  singkat kata bandara ini memang berhak di beri standart Internasional.


selanjutnya ada Pelabuhan . Pelabuhan yang mungkin kita kenal adalah pelabuhan sekupang (dekat rumah saya), pelabuhan Internasional serta pelabuhan kecil menuju Pulau-pulau disekitarnya. Untuk menuju ke Singapore diperlukan waktu 40 menit dari pelabuhan sekupang, sedangkan menuju Malaysia (johor) diperlukan waktu 1.40 menit. Cepat bukan? Itu bagaikan dari Jakarta ke bekasi yah? Ah lebih cepat dari batam-singapore saya rasa. Dan harganya? Jangan khawatir, untuk PP tidak akan sampai 500 ribu menuju kesana. Nah, ini yang benar-benar membuat Batam semakin seksi untuk di tanami investasi.

Mungkin demikian sedikit cerita tentang daerah saya, sedikit banyaknya pasti ada plus-minus dari Pulau ini, dan saya tau akan itu. Saya harap teman-teman semua dapat singgah kebatam untuk berlibur. Merasakan ressort, pantai , makanan lautnya, ke sektor industrinya. Tapi buat yang ingin berinvestasi, saya titip pesan, jangan tenggelamkan Batam yah, saya masi mau 20 tahun lagi melihat batam dengan Hutannya yang rimbun. Biarin aja,  apa kata orang kota disana, Batam masih Hutan atau apa, tapi saya masih yakin bahwa Hutan itu paru-paru kedua saya. Jangan tanduskan bahkan tenggelamkan Batam. #visitBatam2014